Hallo. Sudah terlalu
lama tidak memposting disini, akhirnya baru sekarang. Tapi jika biasanya aku
hanya memposting puisi atau cerpen, maka tidak untuk malam ini. Aku ingin
bercerita, yaa bercerita. Hal yang biasanya hanya ku limpahkan pada dinding-dinding
kamarku atau cukup kutelan dalam ingatan saja. Tiba-tiba saja muncul keinginan
untuk mengenang semuanya, berhenti berjalan sejenak kemudian menoleh kebelakang
untuk tahu sejauh mana aku telah berjalan.
Minggu, 26 Januari 2014
Senin, 13 Mei 2013
Dialog dengan Sajadah
Aku remuk
terpuruk dalam bahagia semu
aku rapuh
hancur dan karam di tengah semilir angin
Sebuah sajadah
terbentang di sudut ruang
terpuruk dalam bahagia semu
aku rapuh
hancur dan karam di tengah semilir angin
Sebuah sajadah
terbentang di sudut ruang
Angin
Kau dekat
mengalir bersama tiap bulir detik waktuku
bersama keteduhan hadirmu
mengenalkanku pada warna kehidupan
mengalir bersama tiap bulir detik waktuku
bersama keteduhan hadirmu
mengenalkanku pada warna kehidupan
Kisah Merpati
Ketika merpati datang
menjemput sekerling asa
memagut hati yang merdeka
membawa cerita
Rasa yang bertahta terus berbicara
kapankah merpati kan membawa
menembus samudera
ke pulau titian engkau
menjemput sekerling asa
memagut hati yang merdeka
membawa cerita
Rasa yang bertahta terus berbicara
kapankah merpati kan membawa
menembus samudera
ke pulau titian engkau
Selasa, 05 Februari 2013
TERSESAT DALAM GELAP
( Di pelajaran bahasa indonesia kala itu, kami ditugaskan membuat sebuah cerpen dalam waktu satu jam. Lumayan bikin tangan pegel... )
Santi terduduk dalam rengkuhan gelap. Di kamar yang gelap, penuh dengan ribuan sesak keluh kesah. Malam menemaninya, berharap santi akan menumpahkan segala rasanya. Tapi ia hanya diam, kaku dan termangu. Rambutnya berantakan, wajahnya kosong menatap jauh ke ujung penjuru. Ia layaknya mayat hidup. Di genggaman tangannya sebuah kertas telah remuk. Detak jantungnya saling berpacu dengan detak jam yang memburu.
Detik itu, kembali dibukanya kertas itu.
Santi terduduk dalam rengkuhan gelap. Di kamar yang gelap, penuh dengan ribuan sesak keluh kesah. Malam menemaninya, berharap santi akan menumpahkan segala rasanya. Tapi ia hanya diam, kaku dan termangu. Rambutnya berantakan, wajahnya kosong menatap jauh ke ujung penjuru. Ia layaknya mayat hidup. Di genggaman tangannya sebuah kertas telah remuk. Detak jantungnya saling berpacu dengan detak jam yang memburu.
Detik itu, kembali dibukanya kertas itu.
Senin, 04 Februari 2013
Tumpahan di Malam Kelabu
Hari-hari ini persis sama seperti tiga tahun lalu. Mungkin hanya angka yang berubah. "apa mimpimu?" "apa cita-citamu?" tak ada yang bisa kujawab selain gelengan dan senyuman. Tiga tahun yang lalu, ah tidak, lima tahun yang lalu pun aku masih seperti ini. Namun satu hal yang membuatnya berbeda.
?
Sepi menusuk, menekan
hingga sang surya enggan bersinar
detak waktu pun enggan berlari
hingga tiap detiknya
terasa membunuh
Detakan jantungku telah hilang
hingga sang surya enggan bersinar
detak waktu pun enggan berlari
hingga tiap detiknya
terasa membunuh
Detakan jantungku telah hilang
Langganan:
Postingan (Atom)